MAAF TERAKHIR

oleh:

Wiwik Pratiwi

Malam ini hujan memberikan kesejukan bagi seluruh penghuni bumi, memberikan kenyamanan dalam tiap lelap tidurnya. Seorang gadis manis sedang duduk bersilah di depan jendela kamar Rumah Sakit, ia tidak menghiraukan tiupan angin yang menerpah jilbab panjangnya, dengan tatapan kosong menatap keramaian jalan raya yang penuh gemerlap lampu kendaraan dan lampu jalan, seperti sedang menerawang ke masa depan mencoba menebak-nebak hari esok. Dia masih teringat tentang hasil MRI pemeriksaan dari dokter tadi siang, surat yang menyatakan bahwa dirinya terkena Kanker Otak stadium akhir. Gadis itu bernama Zahra,dia adalah gadis manis berumur 17 tahun dan sekarang masih berusaha menyelesaikan sekolahnya di salah satu SMA terfavorit di Kota Palopo. Kini ia sedang terbaring lemah di Rumah Sakit setelah beberapa hari yang lalu ia pingsan di sebuah taman. Hal itu memang sering terjadi padanya, awalnya Zahra hanya berpikir bahwa itu semua karena berbagai kegiatan sekolah yang sangat menguras tenaganya. Tapi lama-kelamaan rasa sakit yang menderanya semakin terasa sakit seakan kepalanya akan pecah. Papanya sangat khawatir terhadap keadaan Zahra sehingga memutuskan untuk membawa Zahra ke Rumah Sakit untuk di periksa.

“Ya Allah, rabb ku. Jika ini adalah bagian dari cobaan untuk hamba bisa menjadi yang lebih baik lagi maka hamba ikhlas yah Allah. Tapi jika hamba di beri kesempatan tambahan waktu beberapa menit saja aku ingin bertemu mama”. Tangisnya kini tak tertahankan. Zahra kemballi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. ”hamba tidak akan meminta yang lain, hamba hanya ingin menyelesaikan beberapa masalah dengan orang-orang yang hamba sayangi”. Zahra akhirnya terlelap mungkin karena ia kelelahan, bukan hanya raga namun juga jiwanya.

(beberapa bulan yang lalu)

Zahra telah sampai didepan pintu gerbang rumahnya ketika dia melihat sebuah mobil sedan mewah terparkir di depan pagar rumahnya. Rintikan air hujan mulai turun,Zahra segera bergegas masuk kerumah. Zahra mendengar papanya sedang berbicara serius dengan seseorang  yang sepertinya seorang wanita yang suaranya sangat dia kenali dengan baik dan sangat ingin dia lupakan. Dengan perasaan yang was-was dia memasuki ruang tamu tempat papanya dan tamunya sedang berbincang-bincang.

“assalamu’alaikum…Zahra pulang” sapa Zahra memberi salam dan mencium tangan papanya.

“wa’alaikum salam sayang, kamu sudah pulang. Maaf yah papa ngak bisa jemput kamu” jawab Pak Kasim membalas jabatan tangan anaknya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan tangannya kearah Zahra. Zahra segera mengangkat kepalanya untuk melihat siempunya tangan. Ternyata dia adalah Ibu Mega, ibu yang melahirkan Zahra.

“….” Zahra tidak dapat berkata-kata lagi, amarahnya mulai naik melihat wanita yang melahirkannya, wanita yang sangat dia benci berdiri di hadapannya dengan wajah yang tanpa dosa.

“apa kabar sayang? bagaimana sekolahmu hari ini?”tanyanya seraya merangkul tangan Zahra lembut. Tapi Zahra segera menepis tangannya dengan kasar dan bersedia untuk menumpahkan segala amarahnya pada Ibu Mega, amarah yang sudah terlalu lama Zahra pendam dalam hati.

“apa pedulimu”jawab Zahra ketus mencoba menahan gejolak amarah dalam dadanya.

“sayang, mama kamu kesini untuk bertemu dengan kamu nak” kata pak Kasim menengahi.

“iya sayang, mama kesini bawain kue kesukaan kamu. Pie coklat,mama masak sendiri. Kamu masih ingat tidak, dulu kita….”

“aku tidak mau.” Kata Zahra memotong perkataan ibu mega, Tangisnya kini tidak dapat lagi dia bendung.

“tapi bukannya kamu sangat suka yah, dulu kamu selalu makan banyak. Ini mama udah bawain kamu.”kata ibu mega seraya menyerahkan kotak berisi kue itu. Zahra tidak dapat mengendalikan egonya,dia membuang makanan yang di berikan ibu mega. Pak Kasim sangat marah, jika saja ibu mega tidak menahan Pak Kasim Pasti papanya sudah menampar Zahra. Pak kasim pasti sangat kecewa dengan perbuatan Zahra terhadap mamanya saat ini.

“Zahra, papa tidak pernah mengajari kamu untuk bersikap kurang ajar seperti itu. Bagaimana pun juga dia ini mama kamu.”kata pak kasim penuh amarah.

“tidak apa-apa mas, dia masih muda pasti dia sangat kecewa dengan aku.”Kata-kata ibu mega membuat hati Zahra semakin panas.

“tapi pa, apa papa tidak merasa sakit hati dengan tingkah mama yang meninggalkan kita demi laki-laki lain yang lebih kaya.”jelas Zahra memberi pembelaan atas sikapnya.

“sayang, mama minta maaf. Sebenarnya mama tidak ingin meninggalkan kamu dan papa kamu tapi…”ibu mega kini menangis, entah apa yang dia tangisi, apakah ia menyesal telah meninggalkan Zahra dan papanya atau yang lainnya. Hanya ibu mega yang tahu alasannya, dan  Zahra pun tidak berharap penjelasan atas tangisnya.

“Zahra, mama kamu udah menyesal dan kini dia meminta kesempatan untuk menyayangi kamu lagi.”kata pak kasim menjelaskan.

“benar sayang, mama sungguhnya menyesal. Kini mama ingin mengulang semua kenangan-kenangan kita dulu.”

“semua kenangan antara mama dan aku udah aku lupakan. Bagi aku itu semua hanyalah masa lalu yang suram, aku tidak pernah berniat untuk mengenang semuanya bahkan mengulangnya.”tangis ku kembali.

“tapi sayang….”

“Apa kamu tidak malu untuk kembali ke rumah ini, rumah yang 10 tahun lalu kamu tinggalkan demi menikah dengan lelaki kaya dan meninggalkan anak dan suamimu” kata Zahra dengan penuh amarah sambil menunjuk wanita yang tak ingin lagiku panggil ‘mama’.

“maafkan mama sayang,mama…”

“maaf? Setelah 10 tahun, baru kamu datang untuk meminta maaf”

“sayang mama…”

“kamu bukan mama aku…. mama aku udah MATI” tak terasa air mataku mulai jatuh.

“sayang kamu jangan bilang begitu, mamakan masih hidup” katanya seraya meneteskan air mata. “maafkan mama, beri mama kesempatan untuk menebus semua kesalahan-kesalahan mama di masa lalu”

“aku sudah bilang aku ngak akan pernah bisa memaafkan kamu. Bahkan hingga aku mati, rasa sakit yang kamu buat tidak akan pernah aku lupakan”

“Zahra…” panggil ibu mega senduh,

“kamu pergi sekarang, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi dirumah kami”kata Zahra seraya menunjuk arah pintu.

“tapi sayang…”

“PERGI”teriak Zahra keras.

“baiklah mama pulang, kamu jaga kesehatan yah. besok!”

“……” Zahra hanya terdiam membisu dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.

“ya udah mas, aku pulang dulu. Assalamu’alaikum” kata ibu mega seraya keluar dari pintu dengan tangis penyeselan dan rasa bersalah yang makin besar kepada keluarga kecilnya terlebih lagi kepada putri kandungnya yang kini sangat membenci dirinya.

“wa’alaikum salam Wr.Wb…”jawab pak kasim dengan rasa yang campur aduk.

Setelah mobil mama menghilang dari kejauhan, Zahra segera naik kekamarnya dan mengunci pintu untuk menenangkan diri.

000

“sayang, ayo bangun. Sholat subuh yuk!” ujar Ayah Zahra lembut, seraya menepuk-nepuk pundak anaknya pelan.

Zahra membuka mata dengan perlahan, cahaya lampu yang sangat terang sangat menyilaukan matanya. Zahra segera beranjak dari tempat tidur dan hendak masuk kedalam kamar mandi ketika tiba-tiba rasa sakit itu kemballi menyeraknya. Zahra terjatuh ke lantai, hanya beberapa menit dunianya menjadi gelap dan hanya suara kepanikan Ayahnya yang terakhir di dengarnya.

Dokter segera datang dengan beberapa suster penjaga. Mereka lalu mengangkat tubuh lemah Zahra ke atas tempat tidur. Dokter segera memeriksanya.

“Pak Kasim, seperti yang sudah saya katakan kemarin. Penyakit yang diderita anak Bapak bukanlah penyakit yang sepele, kemungkinan untuk sembuh sangat sedikit. Anda juga tahu tentang itukan?” tutur dokter hati-hati. Pak Kasim kini tidak dapat lagi menahan tangisnya, di peluknya tubuh lemah anaknya dengan penuh rasa cinta.

“lakukan apapun untuk menyelamatkan anak saya dokter, berapapun biayanya akan saya bayar yang penting anak saya selamat”.

“baik pak, kami akan melakukan yang terbaik. Tapi  bagaimana pun semua kembali kepada Allah, karena semua dia yang menentukan.”kata dokter seraya keluar dari kamar rawat Zahra.

Pak Kasim kini hanya terpaku seraya memeluk tubuh Zahra semakin erat. Pak Kasim segera mengambil air wudhu dan segera sholat. Zahra yang telah sadar, melihat ayahnya yang sedang menangis dalam sujudnya. Zahra sangat merasa sedih mellihat ayahnya, dia sangat tahu betapa hancurnya perasaan ayahnya melihat keadaannya saat ini.

“ya Allah, hamba memohon ampun atas semua dosa-dosa, jangan engkau hukum anak hamba atas semua dosa-dosa hamba. Berilah kesembuhan pada anak hamba, dia masih sangat muda untuk menderita penyakit itu. Pindahkanlah semua penyakitnya kepada hamba, hamba rela ya Allah”. Kata Ayah Zahra dalam doanya. Sangat terlihat bahwa ia begitu hancur, dia tidak sanggup melihat anaknya menderita. 10 tahun hidup hanya berdua dengan Zahra tanpa kehadiran sosok ibu, membuatnya sangat menyayangi Zahra. Baginya Zahra adalah sosok anak yang kuat, penyayang dan sangat baik.

“Ayah..”

“iya sayang,  kamu butuh sesuatu atau masih terasa sakit?”tanya Pak Kasim khawatir.

“tidak apa-apa, Zahra cuma mau jalan-jalan kesuatu tempat. Papa mau temenin Zahrakan?”

“iya sayang, papa pasti akan anterin kamu tapi kita harus minta izin dokter Rafly. Tapi, emang Zahra mau kemana sih?”

“Zahra mau ke tempat spesial“. Kata Zahra misterius.

000

Akhirnya hari itu datang juga, setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh dan mendapatkan izin dari Dokter Rafly akhirnya Zahra dan Pak Kasim segera berangkat. Mobil mereka berjalan pelan menyusuri jalanan Palopo menuju Toraja yang cenderung ramai.

“sayang kita mau kemana sih, ingat loh kalau kamu harus segera kembali ke rumah sakit”.

“iya papaku sayang, Zahra janji ini akan menjadi permintaan terakhir Zahra. Setelah ini Zahra tidak akan menyusahkan papa lagi”.kata Zahra mengatur posisi duduknya.

“Zahra..”kata Pak Kasim mengalihkan pandangannya ke arah Zahra.”sayang, kamu kenapa. Muka kamu sangat pucat, kita kembali ke Rumah Sakit yah”.kata Pak Kasim cemas.

“tidak papa, Zahra sangat ingin pergi. Lagian Zahra baik-baik aja kok”.

“tapi…”

“please pa”.

“baiklah”

Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, setelah 3 jam mengendarai mobil akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang sangat indah. Pak Kasim dan Zahra segera turun dan berjalan ke arah teras rumah itu.

Setelah sampai ke teras, Zahra segera mengetuk pintu rumah itu. Akhirnya seseorang membuka pintu ternyata dia adalah Ibu Mega.

“Zahra…”seru Ibu Mega memeluk Zahra.

“mama..”kata Zahra seraya membalas pelukan ibu mega, “maafin Zahra, aku udah tau semuanya. Zahra sangat menyesal karena udah membenci mama, bahkan Zahra udah mengusir mama dulu”. Tangis Zahra kini tidak tertahankan. Rasa bersalahnya semakin besar.

“tidak sayang, mama yang seharusnya meminta maaf. Seharusnya mama menjelaskan masalah ini padamu sejak awal”. Tak ada kata-kata lagi, semua terlukiskan dengan tangis dan dekapan hangat.

“sudah-sudah, apa kalian berdua akan terus berpelukan di depan pintu sampai air mata kalian habis”. Canda Pak Kasim.

“hahhh… iya. Ayo masuk, kebetulan mama lagi buat kue”.

“pie coklat?”

“iya”

“asyikkk,,ayo aku udah lapar banget”.

Mereka akhirnya masuk, Zahra dan pak kasim duduk di ruang tamu sedangkan Ibu mega segera masuk ke dapur dan mengambil sepiring kue Pie coklat beserta 3 gelas coklat hangat. Zahra berjalan-jalan sekeliling ruang tamu dan melihat-lihat foto yang tepajang di hampir seluruh dinding ruang tamu. Tiba-tiba kepala Zahra terasa sangat sakit, ia terjatuh kelantai dengan posisi duduk. Pak kasim kanget melihat Zahra yang lunglai, ia segera menghampiri Zahra.

“Zahra, kamu kenapa sayang?”teriak pak kasim, ibu mega segera pergi ke ruang tamu. Dia sangat kaget melihat keadaan Zahra, ia segera meletakkan nampan yang di bawanya ke meja. “Kita kembali ke Rumah Sakit yah”kata Pak Kasim lagi.

“tidak pa, Zahra sudah tidak tahan. Zahra sudah harus kembali, urusan Zahra sudah selesai. Zahra sudah ketemu sama mama dan meminta maaf sama mama, sekarang Zahra sudah bisa pergi dengan tenang..”

“sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu pasti bisa tahan kamu anak yang kuat.”kata Ibu mega cemas. “ayo mas kita segera bawa Zahra ke rumah sakit”.

“tidak pa, ma. Zahra tidak kuat lagi, Zahra hanya ingin tetap ada disini bersama mama dan papa. Zahra sayang sama mama dan papa, sekalli lagi maafkan Zahra yah”. Zahra memejamkan matanya.

“mama dan papa juga sangat menyayangi kamu nak, mama dan papa juga minta maaf ya sayang”.

Pak Kasim dan Ibu Mega memeluk tubuh lemah Zahra,air mata mereka semakin deras mengalir. Zahra kini telah pergi, Pak Kasim dan Ibu Mega mencoba untuk tegar dan ikhlas atas kepergian Zahra.

Esoknya Zahra dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum di Palopo, kuburan di penuhi oleh orang-orang yang menyayanginya. Termasuk Ibu mega, dia sangat terlihat terpukul atas kehilangan anak semata wayangnya.

“selamat jalan sayang, maafkan mama karena tidak bisa menjadi mama yang baik buat kamu”. Kata Ibu Mega seraya mencium nisan Zahra.

=== sekian ===

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: