Mother Love

Oleh:

Lili Kholida

Pria bertubuh tegap itu memandang hangat pada wanita didepannya lalu tangan turun kearah perut sang istri yang kini telah berisi calon penerus mereka . “Aku berangkat. Hati-hati dirumah” di kecupnya kening sang istri dan berlalu. Meninggalkan rumah dengan menggunakan mobil BMW, sang istri tersenyum sambil memandang kepergian suaminya.
Xxx
Mauren tengah bersantai ditaman belakang rumahnya. Dia bersenandung senang sambil mengelus perutnya yang telah 2 bulan bersemanyam calon bayinya. Dia menatap kolam ikan dan mulai memikirkan suaminya yang pergi keluar kota untuk mengurusi bisnisnya “kalau kamu nanti sudah lahir. Pasti ibu tidak akan kesepian lagi, kalau ayahmu pergi berhari-hari seperti ini.” Gumamnya dengan menunduk melihat perutnya.
“permisii bu” Mauren tersentak dan menoleh kesamping.
“bi Inah bikin kaget saja.”
Bi Inah meminta maaf lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat sedang kepadanya. Kening Mauren mengerut, namun ia menerimanya dan berterima kasih kepada Bi Inah.
Perlahan dia membuka amplop tersebut dan mendapati beberapa lembar foto yang memperlihatkan suaminya dan seorang wanita yang dia kenal, Jesika tengah tidur dan berpelukan mesra diatas sebuah ranjang. Dia menjatuhkan foto-foto itu dan membekap mulutnya tak percaya , bulir-bulir air mata mengalir di pipinya.
“Nyonya ! Kenapa nyonya menangis?” tanya bi Inah yang datang dengan niat membawa susu ibu hamil.
Mauren menggeleng dan justru memeluk Bi Inah dengan erat, orang yang sudah dianggap sebagai ibunya. Bi Inah yang bingung hanya mampu membalas pelukan Mauren. “Ayo, Nyonya kita kedalam. Suasan disini sudah semakin dingin” ucap Bi Inah yang telah kembali dengan membawa selimut. Mauren tersenyum melihat selimut itu,
Xxx
“kebakaran…kebakaran…” suara teriak dari lantai dasar membuat tidur Mauren terusik dia membuka matanya perlahan dan bangkit.
“Kebakaran..dimana nyonya ?” teriak pria paruh baya .
Kesadaran Mauren langsung pulih dan dia segera berlari menuju jendela kamarnya saat akan berlari keluar, kedua matanya menangkap siluet seorang wanita yang tersenyum licik kearah kebakaran api yang melahap seisi rumahnya.
“Jesika?”
“Nyonya.. nyonya..” Bi Inah berlari menghampirinya. “Ayo nyonya kita harus segera keluar.”
Mauren mengangguk dan merapatkan selimut milik bi inah yang dia pake. Rasa takut menyelimuti dirinya akankah dia bisa selamat dari musibah ini ? keduanya berlari menuruni tangga dan menghampiri pintu belakang. Pintu terkunci dan panik menyelimuti. Mauren menangis sambil terus berusaha membuka pintu dengan menendang-nendangnya bersam dengan bi inah.
Pintu terbuka dan Mauren langsung berlari keluar “Cepat selamatkan diri anda Nyonya. Saya akan mencari paimin untuk keluar dari sini.”
“Tidak, aku akan menunggu kalian disini.”
“Tidak nyonya, cepat pergi dari sini! Api mulai menyebar. Ingat nyonya, nyonya membawa satu nyawa lagi bersama nyonya.”
Mauren kembali menangis deras, mengucapkan maaf sekaligus terima kasih. Dia menggerakkan kaki telanjangnya menuju jalan raya.
Tiiin…..tiin…tiiin….
Bruuuk…
Sebuah mobil menabrak tubuh Mauren hingga terpental kepinggir jalan. Pengendara mobil itu terkejut dan dengan gemetar langsung menjalankan mobilnya lagi. Lalu tak lama seorang wanita melihatnya dan menghubungi ambulan. Nyawa Mauren dan bayinya pun tertolong.
Xxx
Seorang ibu paruh baya terlihat sedang manunggu wanita muda didepannya yang terbaring lemah.
“Kasihan sekali nasib mu nak,” ucapnya menatap iba.
Tiba-tiba jari tangan Mauren bergerak kadua matanya membuka perlahan.
“Alhamdulillah, kamu akhirnya sadar nak “ ibu paruh baya tersebut langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tak lama dokter dan dua orang perawat memasuki ruangan. Mereka mulai memeriksa kondisi Mauren yang dari tadi hanya diam dengan wajah yang menyiratkan kebingungan.
Setelah beberapa kali melontarkan pertnyaan kepada pasien, ahirnya dokter tersebut dapat mengambil kesimpulan.
“pasien mengalami benturan keras kepalanya yang mengakibatkan dia mengalami amesia permanen.’’
“apa apa dok?’’ ibu itu menatap mauren iba.
“saya permisi,” dokter itupun pergi. Maurenmenatap bingung ke arahnya.
“Nama saya rosa,” ibu paruh baya memperkenalkan diri.
“ibu Rosa?” tanya mauren ragu, dia tak ingat lagi siapa orang di depanya ini. Bahkan kepalanya berdenyut nyeri saat dia berusaha mengingat namanya.
“Ya.”
“Lalu nama saya siapa ?”
Rosa terdiam, lalu melirik ke arah selimut yang di temukan bersama wanita tersebut saat berlumur darah. “Inah, nama kamu Inah”
“Inah ?” mendengar nama iu membuat Mauren merasa nyaman. “Terimakasih ibu Rosa. Lalu apakah ibu keluarga saya ?”
Rosa tersentak kemudian kepalanya mengangguk pasti . “saya bibi kamu.”
Dan dari sanalah kehidupan Mauren pulang kerumah Rosa yang ternyata berada di sebuah kampung kecil dikaki bukit. Dia ikut bekerja disawah membantu Rosa yang ternyata seorang janda. Rosa juga berdusta mengatakan bahwa suami Mauren telah meninggal. Tujuh bulan terlewati dan dia melahirkan bayinya dengan selamat.
“Tampan sekali bayi nak” puji Rosa sambil mengusap pelan pipi bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang baru selesai dimandikan sang bidan.
“Devan Putra Widjaya.”
“Nama yang bagus, Inah. Tapi Widjaya ?”
Mauren tersenyum, “iya bi. Entahlah aku merasa sangat suka dengan nama itu. Ada perasaan senang dan perih saat menyebut namanya sekaligus.”
Rosa menatap Mauren tak percaya. Apakah wanita di depanya mulai mengingatnya sesuatu? Diapun menangis dan menceritakan semua kebenaran bahwa mauren mengalami amnesia permanen mauren ikut menangis dan sebulan kemudian dia izin untuk pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang layak demi putranya untuk membalas kebaikan Rosa .dan masih menggunakan nama Inah, dia pun di terima bekerja di rumah pengusaha kaya sebagai asisten rumah tangga.
“saya titip Devan ya, bi,” ucap mauren memeluk hangat Rosa.
“hati-hati yaa bi,”
Dan mauren yang jati dirinya masih di selimuti awan hitam terus berjuang menjalani takdirnya menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: