IBUKU TULANG PUNGGUNGKU

Oleh: Musgih Mahesuarah

Namaku Rio. Aku tinggal di salah satu pelosok desa yang ada di Kec. Sabbang Kabupaten Luwu Utara. Aku adalah seorang anak yang di terlantarkan oleh ayahku. Sejak aku dalam kandungan ayahku selalu berusaha untuk mengugurkan kandungan ibuku, dikarenakan dia belum siap untuk memiliki anak kedua. Setiap harinya ibuku selalu dipaksa untuk meminum obat untuk mengugurkan kandungannya. Namun ibuku tetap berusaha keras untuk mempertahankan aku meskipun dia harus tersiksa dan menderita karna sikap ayahku.
Itulah yang dialami ibuku selama mengandungku.

Singkat cerita…

Kini aku telah berumur 3 tahun. Ayah tak pernah memandangiku sebagai darah dagingnya. Dia begitu kejam kepadaku, sedikit saja aku melakukan kesalahan, aku langsung mendapatkan hukuman yang tak sepantasnya didapatkan oleh anak seumuranku. Terkadang badanku harus berlumuran darah karna mendapat setuhan fisik darinya. Dan ibu, ia selalu melindungiku ketika ayah menghukumku, bahkan ibuku sering mendapat hukuman keras atas kesalahanku. Seringkali ibu di pukuli, bahkan hampir dibunuh oleh ayahku ketika dia emosi, yang ibuku sendiri tak tau apa sebabnya…

Kini aku telah menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 4, dimana ayah menceraikan ibuku dan lebih memilih hidup bersama kekasihnya ketimbang ibuku. Sejak perpisahan itu ibulah yang membiayai sekolah aku dan kakaku. Dari sinilah aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan terus melanjutkan sekolahku. Aku ingin menjadi seseorang yang sukses yg terpandang yang bisa mengangkat derajat ibuku.

Sejak kami ditinggalkan ayah, ibu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupi kami. Kadang ibu harus terpaksa menjual sayur di pasar untuk membiayai kebutuhan sekolah kami. Bahkan ibu terpaksa harus menjual tanah peninggalan kakek agar kami dapat terus melanjutkan sekolah. Ibu hanya selalu berdoa, agar aku dan kakaku bisa terus mengenyam pendidikan hingga sukses.

Kini aku telah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (MTs). Aku memutuskan untuk tinggal bersama paman yang berada di Wajo. Disana aku diajarkan untuk hidup mandiri. Hari demi hari aku menjalani hidup di pesantren. Disana aku bertemu seorang ustadz yang menjadi motifatorku, dialah ust Muh. Zubair Rahman.
Dia mendukungku untuk terus belajar dan memberiku kasih sayang layaknya seorang ayah terhadap anaknya.
Hingga suatu saat aku meneteskan air mata ketika di peluk olehnya. Bertanyalah sang ust, “Kenapa nak?”. Lalu aku menjawab, “Aku rindukan kasih sayang seorang ayah ustadz, sejak aku lahir aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah ust”, jawabku. Lalu berkatalah sang ust “Bersabarlah nak memohon pada Allah, engkau pasti akan mendapat petunjuk!”.

Kini tibalah saatnya aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi di salah satu Madrasah Aliyah di Kabupaten Wajo.
Dimana pada saat itu kakakku terpaksa harus berhenti sekolah karna keadaan ekonomi kami semakin memburuk. Kakaku memutuskan untuk membantu ibu menjual sayur di pasar agar dapat terus membiayai sekolahku.
Suatu saat ketika waktu pembayaran Ujian Nasional telah tiba, ibu tak tau lagi harus bagaimana. Dan aku putuskan untuk pergi menemui ayahku dan meminta uang biaya sekolah sebesar Rp.500.000,-. Saat aku meminta uangnya, ayahku hanya berkata, “Jika ibumu tak mampu membiayai sekolahmu lagi, maka behentilah sekolah dan ikutlah menjual sayur di pasar seperti kakakmu!”, kata ayahku.

Kini aku semakin terpuruk dan seakan tak mampu bangkit kembali. Dengan penuh rasa sedih aku memandangi wajah ibu yang tampak lelah banting tulang, peras keringat mencari uang hanya untuk membiayai sekolahku. Aku tak tau harus bagaimana, ibuku tampak merenung dan tak mampu berkata apa-apa, dia hanya mampu tersenyum dan berkata, “Sabarlah nak, semua pasti ada jalan keluarnya!”. Setelah ibu kerkata seperti itu, aku mendapat telepon dari ust Muh. Zubair Rahman bahwa beliau bersedia membayarkan uang sekolahku.

Dari situlah aku bangkit kembali dan belajar dengan penuh kesungguahan agar aku dapat membanggakan ibuku, dan alhamdulillah aku dapat lulus dengan nilai yang memuaskan.

Dan selanjutnya aku melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Kota Palopo. Aku merasa kini aku telah dewasa, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Aku merasa bahwa inilah saatnya aku hidup mandiri dan membiayai hidupku sendiri agar dapat meringankan beban ibuku.

Aku berjanji jika aku sukses nanti akan kubawa ibuku ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan haji. Itulah cita-cita terbesarku.

Sekarang aku akan giat belajar untuk mewujudkan semua mimpiku, mimpi membuat senyum bahagian untuk ibuku tercinta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: